Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2024

Pinang, Sawit

Arunika terbit, sinarnya dari timur sedikit demi sedikit menerangi setengah dari bulatan Bhumi. di desa kecil pelosok dari kecamatan Rasau Jaya tepat nya di SDN 12 Rasau Jaya Patok 35, dua pohon pinang sawit bertengkar di hembusan angin di kelilingi sawit dan pinang lainya.  akarnya menggerogoti tumbuhan selain sejenis. hanya pinang dan sawit yang bertahan, mereka kuat, mereka menguasai tanah gambut itu dan mereka berdiri tegak hanya angin yang mampu menggoyahkan dua tumbuhan itu, tapi segoyahnya mereka berdiri tak tumbang. berdiri tegak dengan semua kesedihan. andai aku yang jadi sawit dan kamu yang jadi pinang, kita berdua berdiri tegak dan hanya cobaan yang menggoyahkan, dedaunan kita bak mulut yang bertengkar tapi kita tetap berdiri. tegak, kokoh, kuat. kau tau aku berharap seperti tapi apa ? pada akhirnya aku hanya sengganis yang kau gerogoti dengan akar pinang mu dan partner sawitmu. pagi ini sebelum Arunika muncul, kabutnya sangat tebal, hingga jarak pandang hanyalah sebatas...

Hirap dalam Harapan

Malam itu cukup istimewa, kembali bersemangat dalam sebuah gelapnya malam aku harap esok sangat cerah.suara riuh petasan, suara saut sautan motor aku tidak mengikuti itu semua apalagi meniup terompek dengan kembang api. aku hanya diam di rumah memandang buku karya tere liye dengan judul TENTANG KAMU. singkat cerita malam tersebut adalah malam tahun baru pergantian yang selalu di rayakan oleh setiap orang dan kembalii pada topik aku tak merayakan itu semua, malam itu aku membaca sambil merenungkan sebuah Harapan. membaca buku dengan sesekali memandang heandphone karena jantung ini tapernah berhenti berdegup menunggu sebuah pesan, ia lama sekali membalas gumamku, kalau menurut pakarnya si tandanya lampu merah ahhh tapi persetan lah dengan itu semua, aku selalu yakin dengan intuisiku walaupun dalam beberapa kali itu yang menyakitiku. aku tabisa berkata banyak hal tapi setiap ketikan yang sekarang aku tulis, hatiku sedikit tergores dan darahnya mulai bercucur, aku terlalu naif dengan perca...